Bisa Dewek

on Minggu, 09 Februari 2014
Suatu perubahan signifikan tengah dialami para petani padi di Indramayu. Kini, mereka tidak hanya menjadi pembeli benih yang diproduksi pemerintah, tetapi juga menjadi produsen
benih, hasil persilangan benih-benih padi yang dilakukannya sendiri. “Bisa Dèwèk” atau “Mampu Melakukan Sendiri”,

Pandangan bahwa yang bisa menyilangkan benih hanya orang pintar itu tidak selamanya benar. Ternyata dengan ketekunan, kerajinan dan keuletan, petani pun bisa menyilangkan benih sendiri.


Hal tersebut terungkap dalam sebuah pemutaran film berjudul “Bisa Dhewek” yang diselenggarakan Aliansiorganis Indonesia (AOI) dan Universitas Djuanda (UNIDA) di ruang D Fakultas Agribisnis dan Tekonologi Pangan, UNIDA Bogor (14/5) kemarin.

Film yang berjudul“Bisa Dhewek ” ini bercerita bagaimana para petani pemulia tanaman padi dan sayuran yang tergabung dalam IPPHTI (Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia) Kabupaten Indramayu.  Meski mereka tak pernah mengenyam bangku pendidikan tapi mampu memproduksi benih padi.

Proses sekolah lapang, tukar menukar informasi yang dilakukan secara tekun, rajin dan ulet yang memberi mereka bekal sehingga bisa memproduksi benih, pupuk dan pestisida organik sendiri.  Ini nampak dari petani yang mampu menyilangkan benih dan mendapatkan varietas yang unggul seperti di film “Bisa Dewek”. 

“Jadi pendapat bahwa yang bisa menyilangkan benih hanya orang pintar itu tidak benar. Ternyata dengan ketekunan, kerajinan dan keuletan, petani bisa menyilangkan benih sendiri,” kata Gandhi Bayu dari KSU Lestari yang selama ini mendampingi petani organik di Cijulang, Bogor, Jawa Barat saat nonton dan diskusi di pre-event Bogor Organic Fair 2 (BOF 2).

Dengan mengadakan benih, pupuk dan pestisida organik sendiri petani bisa menghemat biaya produksi. Petani juga bisa melakukan perlindungan varietas tanaman unggul yang selama ini tergantung pada industri benih.

Gandhi mengakui bahwa petani organik memerlukan waktu untuk mendapatkan hasil panen yang tinggi. Lahan yang beralih ke pertanian organik mesti melewati masa konversi terlebih dahulu. Di masa-masa ini biasanya hasil panen menurun, maka petani perlu pendampingan dan dukungan dari para pihak.
Sementara Nur Rochman, staf pengajar Fakultas Agribisnis dan Teknologi Pangan UNIDA memaparkan bahwa UNIDA telah melakukan upaya pendampingan kepada petani untuk berorganik. Ada beberapa demplot petani yang sudah melakukan pertanian organik. Selain itu, melalui mata kuliah Pertanian Berkelanjutan, Nur Rochman berharap UNIDA bisa memberikan pembekalan kepada mahasiswa untuk melakukan pertanian organik juga.

Menurutnya,hasil panen pertanian organik dengan metode sistem tanam akar sehat atau SRI (System of Rice Intensification) terbukti bisa meningkatkan produksi. Dengan menggunakan air irigasi yang sedikit, bibit yang telah adaptif, penanaman bibit yang cukup satu untuk satu lubang tanam, hasil panen padi bisa melimpah dan pendapatan petani pun bisa meningkat. Tak hanya itu, petani juga bisa mengkonsumsi produk organik sehat yang dihasilkannya. Ini karena, kunci pertanian organik mengutamakan kebutuhan keluarganya terlebih dahulu, baru menjual sisa hasil panennya.

Bagi Nur Rochman, penyadaran akan pentingnya pertanian dan gaya hidup organik harus dilakukan secara berkelanjutan dengan menggunakan berbagai media seperti film, tulisan, pameran, talkshow dan sebagainya.

Sedangkan Angga Wedaswara, Penggiat Film yang jugamenjadisalahseorangnarasumber di acaratersebutmengatakanbahwamahasiswa juga bisa berperan aktif melakukan penyadaran pentingnya pertanian dan gaya hidup organik kepada masyarakat di luar kampus. Tentunya bisa menggunakan media film yang efektif untuk dimengerti.
fenomena ini sangat penting untuk didokumentasikan mengingat bahwa pengetahuan pemuliaan tanaman (plant breeding) selama ini dikuasai oleh kalangan ilmuwan (breeder) dengan kualifikasi akademik tertentu dan bukan pengetahuan yang bersifat umum. Hal ini itu dapat dipahami karena keahlian melakukan pemuliaan tanaman didasarkan pada prinsip-prinsip rekayasa genetika yang tidak kasat mata. Sebaliknya, pengetahuan petani itu terutama diperkaya oleh hal-hal yang dapat diamati melalui panca inderanya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengamati dan mendokumentasikan proses interpretasi dan internalisasi pengatahuan ilmiah (scientific knowledge) ke dalam pengatahuan petani dan bagaimana pengetahuan ini kemudian berkembang sesuai dengan kondisi ekologis dan sosial budaya yang spesifik.
Sebagai sebuah media publikasi, pesan utama yang ingin disampaikan dalam film ini adalah ide kemandirian petani melalui pengembangan Sains Petani. Ada tiga kegiatan Sains Petani yang diangkat dalam film ini, yaitu: kegiatan pemuliaan tanaman (padi dan sayuran), kegiatan budi daya tanaman padi dengan sistem tanam akar sehat atau SRI (System of Rice Intensification) , dan cocok tanam secara organik. Kegiatan pengendalian hama terpadu ditampilkan sebagai latar belakang sejarah mengenai tumbuh kembangnya benih-benih Sains Petani seiring dengan dilaksanakannya Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu di Kabupaten Indramayu sejak tahun 1996.
Sebagai bagian dari kegiatan sosialisasi ide kemandirian dan Sains Petani, pendeseminasian film Bisa Dèwèk dilakukan di 12 kelompok tani yang menjadi bagian dari jaringan IPPHTI Kabupaten Indramayu. Kegiatan ini dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan layar tancep dan diskusi atau dengan istilah petani disebut dengan kegiatan ‘ngamèn’.
Ngamèn dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan dengan berkeliling ke-12 kecamatan di Indramayu dari Patrol di wilayah Barat hingga Juntinyuat di wilayah Timur. Kegiatan ini dirancang oleh IPPHTI Indramayu sebagai usaha untuk memperoleh dukungan dari pemerintah kecamatan tempat kelompok pemulia tanaman berada. Dengan dukungan tersebut, diharapkan wacana Bisa Dèwèk dapat bergulir ke tingkat yang lebih luas yaitu tingkat Kabupaten Indramayu. Strategi ini dipilih oleh IPPHTI dengan pertimbangan bahwa berbagai usaha yang pernah dilakukan untuk berdialog langsung dengan Bupati berakhir dengan kegagalan. Oleh karena itu, dengan adanya dukungan dari ‘bawah’ diharapkan upaya untuk berdialog dengan bupati menjadi terbuka. Dalam istilah Indramayu, strategi ini dinamakan oleh petani IPPHTI sebagai strategi ‘rog-rog wité, rontog wohé’ (digoyang pohonnya, [supaya] jatuh buahnya).
Perjalanan untuk menunggu ‘jatuhnya buah’ tidaklah mulus. Ada berbagai macam reaksi atas kegiatan pemutaran film Bisa Dèwèk. Walau secara umum kegiatan ‘ngamèn’ dianggap sukses dan 10 dari 12 Camat beserta staf pertanian tingkat kecamatan (KCD, BPP dan PHP) akhirnya bersedia menandatangani pernyataan dukungan atas kegiatan dan pengembangan Sains Petani, prosesnya diwarnai oleh berbagai reaksi dan tanggapan terhadap film Bisa Dèwèk. Di beberapa Kecamatan, Camat dan aparat desa (kuwu) menolak untuk hadir dalam acara pemutaran film dan disukusi. Di kecamatan lain, situasinya berbeda. Aparat desa dan petugas pertanian justru sangat aktif dalam membantu persiapan dan pelaksanaan kegiatan ngamèn.
Berbagai reaksi yang muncul atas film Bisa Déwék menunjukkan adanya beragam interpretasi atas wacana kemandirian dan Sains Petani yang diartikulasikan dalam film ini. Bagi beberapa pihak, Sains Petani dianggap sebagai ancaman. Bagi pihak lain, film ini justru memberikan inspirasi untuk melakukan berbagai pengembangan pengetahuan pertanian.




0 komentar:

Posting Komentar